Penulis :
Wilfridus Bambang
alo semua.
berdasarkan categories yang aku centang, aku memilih testimonial. hm, lama sekali ya tidak bersua dengan kawan2 yang ada di kpli jogja, meski sekian waktu lalu aku sempat ketemu secara tidak sengaja dengan salah satu dedengkot yaitu mas iyan (alumni UII), di salah satu warung pecel lele di jakal. ups, ini bukan topik yang asli, pantesan ga nyambung banget ya. sabar… baca yang di bawah ini.
nah, ini dia tulisan yang sebenarnya. selama beberapa bulan terakhir ini, aku belajar untuk mencoba membangun iklim yang sebenarnya seorang calon administrator linux, yang kebetulan di semester lalu aku diserahkan tanggung jawab mengampu mata kuliah pilihan, yaitu administrasi linux. istilahnya adalah sebagai penggojlokan awal, meminta mereka semua yang terdaftar di kelasku itu untuk kenalan, dan tentu saja bergaul lebih banyak dengan sistem operasi. ya, karena sebagian besar dari mereka adalah benar2 belum pernah memegang, jangankan untuk mengoperasikan, sehingga semua kegiatan yang aku lakukan tentu saja standar sesuai “SOP” semua KSL dan KPLI (cmiiw), mulai dari brainwash, installfest, perintah dasar serta pengenalan desktop, dan mungkin ini yang sedikit berbeda, langsung pada project konfigurasi individu, yang harus dipresentasikan, diujicoba, serta membawa tingkat keberhasilan yang mutlak. wah, iya dunk, apa jadinya jika kita sendiri sebagai user ketemu server yang error di sana-sini. tentu komplain. posisi itulah yang aku ikutkan dalam tahap pengajaran.
di awal, tentu cukup ribet mengawal kelas agar sesuai keinginan. karena kebetulan mereka sudah pernah mengambil salah satu mata kuliah di semester2 awal yang mengajarkan konfigurasi server sederhana berbasis win****. tentu aku sudah mengantisipasinya, dengan tidak memperbolehkan sama sekali melakukan konfigurasi menggunakan desktop, alias, di layar monitor, harus murni konsol, sehingga mau tidak mau, mereka para mahasiswa/i itu harus melakukan penekanan ctrl+alt+f1. he3. yang aku lihat adalah ekspresi kaget yang cukup dalam di wajah mayoritas mahasiswa/i itu, karena tidak pernah menyangka akan berinteraksi dengan mode pengerjaan non desktop. interaksi dengan desktop terutama browser dan beberapa aplikasi hanya ketika ujicoba, setelah selesai, silakan kembali ke mode konsol.
yang terjadi di lapangan selama satu semester, tentu banyak sekali, dan tentu saja memakan korban satu persatu yang mengundurkan diri secara tidak hormat (alias tidak ijin. he3), tetapi lebih dari 80% peserta didik tetap duduk dengan manis di kursinya hingga UAS, dan memang sampai saat ini yang berhasil lulus adalah memang yang aku anggap layak lulus, serta kemudian diharapkan mereka sudah berani unjuk gigi dan berani untuk berhadapan dengan situasi yang sebenarnya dalam konfigurasi suatu server. memang tidak semua, dan memang pula tidak bisa diharapkan semua menyukai, tetapi kemampuan/skill itu, sesuai dengan kepercayaanku, adalah hanya dapat di asah melalui suatu proses yang tidak singkat dan gampang, dan ketika berhasil mendapatkannya, maka akan menjadi kekuatan untuk di hari esok. setidaknya aku mencoba membangun sumber daya, sambil mengarahkan jalur, dan membuka kesempatan kerja, di bidang administrasi server berbasis linux.
ini hanya sedikit sharing ttg pengajaran administrasi server linux di tempatku. thanks.
bukit.sariwangi, 280609, 17:46
Penulis :
ryan_oke
Kuliax 6.0 adalah sebuah distribusi GNU/Linux Desktop untuk pendidikan di Universitas. Khususnya untuk program studi Teknologi Informasi atau yang berhubungan, seperti Teknik Elektro konsentrasi Sistem Komputer dan Informatika, Teknik Informatika, Ilmu Komputer, dan lain-lain.
Bagaimana jika Kuliax dibawa ke kantor? Di kantor sini bisa menjadi yang paling lucu dan imut karena yang lain adalah komputer-komputer berjendela.
Seperti biasa, sebelum memulai instalasi sebuah sistem operasi sebaiknya terlebih dahulu kita siapkan partisi untuknya. Partisi bisa dipersiapkan dengan bantuan berbagai macam aplikasi, salah satu contohnya adalah QtParted yang disertakan dalam Kuliax 6.0.
Sistem yang telah ada adalah Microsoft Windows 2000 Advanced Server dan client yang berisi Microsoft Windows XP Professional. Saya tidak ingin berprasangka buruk, kantor sini merupakan perusahaan besar yang menguasai hajat hidup orang banyak. Jadi saya asumsikan peranti lunak yang digunakan adalah legal.
BACA »
Penulis :
IW
VoIP merupakan teknologi yang memanfaatkan Internet Protocol untuk menyediakan komunikasi voice secara elektronis dan real-time. Layanan yang disediakan juga tidak kalah hebat, selain layanan yang terdapat pada PSTN, VoIP mampu memberikan layanan-layanan seperti: Instant Messaging, Presence, Video Call, Video Conference, dan integrasi dengan aplikasi internet lainnya.
Nah.. tadi saya iseng nyobain, ga sulit-sulit amit.. trus sedikit curhat di Blog’s. Ngoprek X-Lite di Linux.
Malu juga siy.. lama ga di update
)
Yang lebih lengkap bisa ke VoIP Rakyat
Penulis :
agung
Penulis : manda
Serupa tapi tidak sama, sepertinya itu yang terjadi antara Microsoft dan Linux (setidaknya dalam kacamata saya). Mcirosoft yang mewakili kapitalisme dengan Widowsnya berusaha mengeruk untung sebanyak mungkin,karen 80% masyrakat dunia sudah merasa ketergantungan terhadapnya. Sementara Linux yang mewakili pengetahuan, dengan komunitasnya berusaha agar masyarakat dunia menjadi ‘melek’ Teknologi tanpa harus tergantung dengan sistem kapitalisme
baca selengkapnya
Penulis :
Fathoni
Ini pernah saya sampaikan saat seminar di STMIK AKaKom, sekitar bulan Agustus 2005. Seorang rekan peserta bertanya, bahwa ia punya komputer tua (Pentium classic; apa masih bisa dipakai (maksudnya dipasangi Linux).
Temen-temen pernah ditanya seperti itu, atau punya juga komputer tua? Sementara orang menyarankan untuk router saja. Apa tidak bisa untuk real bussines? Bisa!
FYI, spesifikasi komputer (tertua) yang pernah saya pakai adalah:
- prosesornya: Intel Pentium 120MHz
- memori atau RAM: 32MB (SDRAM)
- VGA: Cirrus Logic (lupa chipsetnya
)
Tanpa soundcard, CDROM drive dan yang canggih-canggih lainnya 
Sudah pernah dipasangi distro RedHat 5.2 (Agustus 1998, pertama kali kenal Linux), SuSE 6.2 lalu Trustix Merdeka rilis pertamanya. Terakhir adalah Slackware 8.0, Slackware 8.1, lalu 9.0 serta Slackware 9.1 hingga akhir hayatnya
Wafat sekitar 1 tahun yang lalu oleh sebab slot SDRAM rusak semua sehingga tak ada RAM; sebenarnya ada beberapa slot EDO-RAM, tetapi agak susah mencarinya. Lagipula, saya sudah punya yang lain (dengan Slackware lagi tentunya
)
Saya memakainya untuk semua urusan saya tentunya, saya tidak punya komputer lain lagi. Apakah reliable, begitu mungkin tanya Anda. Ya, bagi saya. Berikut ini beberapa detil perangkat lunak XWindow-nya:
- Gnome+KDE awalnya (RedHat 5.2)
- WindowMaker
- pada akhirnya BlackBox, lalu FluxBox
Perangkat lunak “kantoran” ada juga; menulis adalah yang paling banyak dilakukan orang, daftarnya berikut ini:
- ViM, menulis program, semua yang “.txt” dan mengedit file konfigurasi apa saja
- Pine (Pine is Not Elm
) untuk surat menyurat (di kost, kami pasang LAN meski dari dulu tak lebih dari tiga orang)
- LaTeX untuk dokumen yang lebih serius (yang memerlukan konsistensi style), dahulu saya memakai ViM, jadi rasanya seperti membuat halaman web saja
Lama berselang baru saya tahu ada yang namanya LyX, saya memakainya sampai sekarang.
- LyX, GUI untuk LaTeX, sudah dijelaskan di atas.
- Abiword, ini ringan lho (dibanding OpenOffice
).
- dll, saya sampai tak bisa mengingat persis nama-namanya, karena tak pernah dipakai, mungkin.
Entah kebetulan atau tidak, dari dulu saya tidak pernah kena proyek atau tugas yang mengharuskan saya berurusan dengan “spreadsheet”.
Apa lagi yang lain ya… Yah, yang jelas saya pakai juga untuk mengkompilasi program-program saya (C/C++) dan juga bahkan untuk kompilasi kernel! Memang lama sih, kira-kira kompilasinya saja habis 4 atau 5 jam, kurang pasti persisnya.
Terakhir, saya membatasi servis/layanan yang berjalan: hanya ssh (agar teman kost saya bisa login), sendmail dan httpd (Apache), sebab saya belajar PHP sebelum fokus di C/C++. Dan, hanya jika saat “ngeprint” saya jalankan lpd.
Udah malam sekarang, pamit dulu; mudah-mudahan bisa saya lengkapi/perbaiki kelak.
Penulis :
Dedy Hariyadi
Saya posting disini bukan mau promosi namun ingin memberikan informasi tentang warnet Linux di Jogja.
Semoga dengan adanya warnet ini para Jogxer lebih terpancing membuka usaha warnet berbasis Linux dan FOSS bahkan mengembangkan aplikasi didalamnya.
Jika anda tertarik silahkan datang ke Wintersat (baca:intersat) Jl. Solo dan Jl. Timoho hubungi aja CS-nya.
Penulis :
willy
Distro GNU/Linux yang pertama kali aku kenal adalah RedHat, karena kebetulan digunakan waktu ada kuliah jaringan komputer semester 4, tetapi distro pertama yang digunakan untuk pribadi adalah Mandrakelinux 9.0, dari buku mini Infolinux. Diikuti dengan Mandrake 9.2 (versi 9.1 aku lompati, karena menurutku kurang begitu stabil), lalu yang terakhir adalah Mandrake 10.0 Official Pack+ (sampai sekarang, meskipun sudah ada 10.1). Rencana mau upgrade sih ke 10.2.
Kesan selama menggunakan Mandrakelinux pada awalnya enak (sampai sekarang pun juga enak). Hardware banyak yang terdeteksi, graphical interface juga bagus, teknologi selalu up-to-date dan selalu ada penambahan tool yang terintegrasi pada Mandrake Control Center setiap ada rilis baru. Paket-paketnya termasuk lengkap, baik untuk game, multimedia ataupun untuk development. Untuk update, juga sudah ada aplikasi yang cukup bagus, yaitu urpmi (meskipun lebih enak lagi kalo punya koneksi Internet kabel, sehingga bisa seperti apt-get di Debian). Kalo punya akses ke Mandrakeclub, maka prosesnya lebih gampang lagi, karena ada MandrakeOnline, yang bisa memberitahukan adanya update melalui applet pada desktop.
Hanya saja, ada juga beberapa kelemahan dari Mandrakelinux, misalnya:
- Tidak pernah keluarin versi baru dari sebuah paket. Dia hanya melakukan patching dari versi terbaru ke versi yang digunakan saat rilis. Alhasil untuk beberapa paket tidak bisa diinstall, karena kebutuhan dependency yang tidak terpenuhi, meskipun sebenarnya versi sesungguhnya sudah berbeda, tetapi karena diimplementasikan dalam 1 versi yang sama, maka tetap tidak bisa jalan. Solusinya adalah dengan menginstall melalui source. Hal ini bisa untuk paket yang kecil-kecil, tapi kalo sudah main di paket GNOME, seperti paket GConf yang diperlukan untuk installasi Liferea terbaru, wahh… sudah dech
- Membutuhkan spesifikasi hardware yang “cukup”. Mandrakelinux dioptimasi untuk berjalan pada komputer dengan prosessor Pentium III keatas, sehingga jika digunakan untuk komputer Pentium II kebawah, mungkin performanya kurang bagus (meskipun aku pernah coba install di komputer Pentium II 233 MHz dengan full graphical interface KDE 3.1 dan jalan).
- KDE yang digunakan untuk 10.0 masih sering bermasalah, terutama pada Arts. Semoga di rilis berikutnya sudah diperbaiki.
- Modul USB pada rilis 10.0 masih kurang stabil. Kadang bisa terdeteksi, tapi saat install lagi, kadang tidak terdeteksi. Mungkin juga karena kernel yang digunakan sudah cukup ketinggalan jaman (2.6.3).
Yah… mungkin itu dulu kesanku selama menggunakan Mandrakelinux 10.0 Official Pack
Penulis :
willy
Aku kurang tahu apakah judul diatas benar atau tidak, tetapi aku sendiri mencoba menginstall OpenOffice.org 2.0 beta (aka 1.9.79) di Mandrake 10.0 dan ternyata setelah installasi tidak berjalan sama sekali. Hari ini aku mencoba mendownload build terbaru (1.9.87) dan installasinya berhasil. Pada build terbaru ini, sudah banyak paket tambahan, misalnya paket untuk menu pada Redhat, Mandrake, dan SuSE, testtool, lalu jumlah paket core yang lebih banyak (2.0 beta cuma 4, sekarang ada 8 paket core 01 sampai 08).
Setelah aku coba install semuanya (termasuk menu untuk Mandrake), memang program bisa berjalan dengan bagus, tetapi penempatan menunya masih kacau. Ada yang muncul, dan ada yang tidak (mungkin karena aku masih menggunakan OOo 1.1.4). Pada MenuDrake, semua menu OOo 2.0 sudah keluar, tapi pada menu applikasi yang sesungguhnya tidak muncul (hanya beberapa aja). Jadi aku hapus paket openofficeorg-mandrakelinux-menus lalu aku buat manual dari MenuDrake dan tetap berhasil. Sekarang OOo 2.0 telah berhasil diinstall dan dijalankan dengan baik pada komputerku
Ada yang punya tanggapan tentang OOo 2.0?